Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Iklan Navigasi Header

Jurmiyah | part 25

 بسم الله الرحمن الرحيم

Bab menerangkan Hal
Bab menerangkan Hal

Hal adalah Isim [Kata benda] yang dibaca Nashob yang (fungsinya) menafsirkan / memperjelas suatu keadaan yang masih ambigu, maksudnya; Hal adalah kalimat Isim yang dinashobkan yang memperjelas keadaan Shohibnya [pemilikinya] ketika terjadinya makna Amilnya. Jadi, dalam segi makna; Hal ialah Sifat dari Shohibnya. menjadi Qoyid pada Amilnya. Contoh

جَـاءَ زَيـدٌ رَاكِـبًـا
[Zaid datang dalam keadaan / sambil menunggang {kendaraan}]

Lafad زَيـدٌ adalah Failnya lafad جَـاءَ 

Lafad رَاكِـبًـا adalah Hal dari lafad زَيـدٌ yang dengan (adanya) Hal, kondisi kedatangan Zaid dapat diperjelas

Jadi, lafad رَاكِـبًـا adalah Hal dari Fail [Zaid], (Amil) yang menashobkan adalah Fi'il yang telah disebutkan sebelumnya [جَـاءَ]

Kadangkala ada Hal dari Maf'ul sebagaimana contoh yang telah disebutkan Mushonif;

وَرَكِـبـتُ الـفَـرَسَ مُـسـرَجًـا

Lafad الـفَـرَسَ adalah Maf'ulnya [Obyeknya] وَرَكِـبـتُ

Lafad مُـسـرَجًـا adalah Halnya lafad الـفَـرَسَ Jadi, lafad مُـسـرَجًـا adalah Hal dari Maf'ul dan Amil yang menashobkan adalah Fi'il yang disebutkan sebelumnya.

لَـقِـيـتُ عَـبـدَ اللهِ رَاكِـبًـا

Lafad عَـبـدَ اللهِ adalah Maf'ul dari لَـقِـيـتُ 

Lafad رَاكِـبًـا kemungkinan bisa menjadi Hal dari تُ; yaitu Fail atau (menjadi Hal) dari عَـبـدَ اللهِ; yaitu Maf'ul

Dan contoh-contoh Hal semacamnya.

Dan terkadang Hal ada yang berupa Jumlah [Susunan beberapa kalimat] contoh

جَـاءَ زَيـدٌ وَالـشَّـمـسُ طَـالِـعَـةٌ

Huruf Wawu adalah Wawu Hal

وَالـشَّـمـسُ طَـالِـعَـةٌ adalah Mubtada' dan Khobar

Jumlah berstatus Nashob sebagai Hal dari زَيـدٌ 

Jumlah (diatas) sama kuatnya dengan 

جَـاءَ زَيـدٌ مُـقَـارِنًـا طُـلُـوعَ الـشَّـمـسِ

Bab menerangkan Hal

Tidak ada Hal melainkan berupa Isim Nakiroh, maksudnya Hal hanya bisa berupa Isim Nakiroh sebagaimana contoh-contoh yang telah lewat. Terkadang ada Hal berupa Isim Ma'rifat lalu dita'wil sebagai Isim Nakiroh; contoh

ادخُـلُـوا الأوَّلَ فَـالأَوَّلَ أي مـرتـيـن
وَاجـتَـهِـدْ وَحـدَكَ أي مـنـفـردا

Dan tidak ada Hal; melainkan sudah sempurna (susunan) Kalamnya [Sudah terdiri dari Fi'il dan Fail atau Mubtada' dan Khobar] seperti contoh-contoh yang sudah lewat.

Kadang Hal harus didahulukan memiliki صـدر الـكـلام; seperti Isim Isim Istifham; contoh

كـَيـفَ جَـاءَ زَيـدٌ؟

I'robnya :
كـَيـفَ adalah Isim Istifham yang dimabnikan Fathah berstatus Nashob sebagai Hal dari زَيـدٌ
جَـاءَ زَيـدٌ adalah (susunan) Fi'il dan Fail

Dan Shohibul Hal harus hanya berupa Isim Ma'rifat sebagaimana contoh-contoh sebelumnya. Terkadang ada (Shohibul Hal) Isim Nakiroh secara Sima'i [sempat diucapkan oleh orang Arab, tapi tidak bisa dijadikan kaidah / rumus], diantaranya Hadis :

صَـلَّـى رَسُـولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم جَـالِـسًـا, وَصَـلَّـى وَرَاءَهُ رِجَـالٌ قِـيَـامًـا

قِـيَـامًـا adalah Hal dari lafad رِجَـالٌ; yang berupa Isim Nakiroh. Contoh (diatas) tersebut dijaga, tapi tidak bisa dijadikan patokan / rumus. Dan kadang Shohibul Hal bisa berupa Isim Nakiroh secara Qiyas [dalam artian bisa dijadikan rumus] dengan (adanya) Musawwigh [hal-hal yang memperbolehkan] yang dipaparkan di dalam kitab kitab yang diperluas isinya [kitab-kitab besar].


Bab menerangkan Tamyiz
Bab menerangkan Tamyiz

Tamyiz adalah Isim yang dinashobkan yang (fungsinya) memperjelas dzat-dzat yang masih belum jelas. Dan (Amil) yang menashobkan adalah Fi'il, bilangan atau kadar sebelumnya; sebagaimana contoh-contoh yang akan diperlihatkan (nanti).

Kadang Tamyiz (berfungsi) memperjelas suatu Nisbat (hubungan) yang masih samar; sepertihalnya yang juga akan diperjelas dengan contoh-contoh. Contoh

تَـصَـبَّـبَ زَيـدٌ عَـرَقًـا

تَـصَـبَّـبَ adalah Fi'il Madli
زَيـدٌ adalah Fail
عَـرَقًـا adalah Tamyiz yang dinashobkan dengan (Harokat) Fathah yang tampak oleh Fi'il sebelumnya

Lafad عَـرَقًـا memperjelas suatu Nisbat yang masih Ambigu, karena Nisbat lafad عَـرَقًـا pada lafad زَيـدٌ bisa jadi berhubungan dengan keringatnya atau hal yang lain [jerih payah, usaha dan semacamnya]. Begitu juga pada contoh


تَـفَـقَّـأَ بَـكـرٌ شَـحـمًـا

طَـابَ مُـحَـمَّـدٌ نَـفـسًـا

Masing-masing dari 2 Tamyiz pada 2 contoh (diatas) memperjelas Nisbat yang masih samar

اشـتَـرَيـتُ عِـشـرِيـنَ غٌـلاَمًـا

اشـتَـرَيـتُ adalah (susunan) Fi'il dan Fail
عِـشـرِيـنَ adalah Maf'ul Bih [objek] yang dinashobkan dengan Ya'; karena Mulhaq [disamakan] dengan Jama' Mudzakkar Salim
غٌـلاَمًـا adalah Tamyiznya lafad عِـشـرِيـنَ karena belum jelas kecocokannya untuk setiap sesuatu yang bisa dihitung
(Lafad) yang menashobkan Tamyiz adalah lafad عِـشـرِيـنَ

مَـلَـكـتُ تِـسـعِـيـنَ نَـعـجَـةً

مَـلَـكـتُ adalah (susunan) Fi'il dan Fail
تِـسـعِـيـنَ adalah Maf'ul Bih yang dinashobkan dengan Ya'; karena Mulhaq dengan Jama' Mudzakkar Salim
نَـعـجَـةً adalah Tamyiznya lafad تِـسـعِـيـنَ yang dinashobkan oleh lafad تِـسـعِـيـنَ (itu sendiri) sebagaimana pada (contoh) عِـشـرِيـنَ

زَيـدٌ أَكـرَمُ مِـنـكَ أَبًـا
زَيـدٌ adalah Mubtada'
أَكـرَمُ adalah Khobarnya Mubtada'
مِـنـكَ adalah (susunan) Jer dan Majrur
أَبًـا adalah Tamyiz yang dinashobkan oleh lafad أَكـرَمُ peralihan [Muhawwal] dari Mubtada'. Asalnya أَبُـو زَيـدٍ أَكـرَمُ مِـنـكَ kemudian runtutannya diubah dan dibaca زَيـدٌ أَكـرَمُ مِـنـك lalu Nisbat kemuliaan kepada Zaid menjadi tidak jelas dari sisi mananya, sehingga didatangkanlah Tamyiz untuk memperjelas ketidakjelasan tersebut

Contoh lainnya adalah
 أَجـمَـلُ مِـنـكَ وَجـهًـا

أَجـمَـلُ diathofkan [diikutkan] pada lafad أَكـرَمُ (diatas) yang berstatus sebagai Khobar dari زَيـدٌ, Ma'thuf [lafad yang diikuti {أَجـمَـلُ }] pada Khobar [أَكـرَمُ] menjadi Khobar

Pengkira-kiraanya adalah زَيـدٌ أَجـمَـلُ مِـنـكَ وَجـهًـا

زَيـدٌ adalah Mubtada'
أَجـمَـلُ adalah Khobarnya Mubtada'
مِـنـكَ adalah (susunan) Jer dan Majrur
وَجـهًـا adalah Tamyiz Muhawwal dari Mubtada' karena Nisbat ketampanannya [Ijmaliyah] belum jelas. Asalnya
وَجـهُ زَيـدٍ أَجـمَـلُ مِـنـكَ

Kemudian contoh ini diterapkan pada contoh yang sudah lewat

Tidak ada Tamyiz; melainkan berupa Isim Nakiroh

Tidak ada Tamyiz; melainkan berupa Isim Nakiroh. Artinya Tamyiz sama seperti Hal hanya bisa berupa Isim Nakiroh seperti contoh-contoh sebelumnya. Adapun ucapan [Syair]

وَ طِـبـتَ الـنَّـفـسَ يَـا قَـيـسُ عَـن عَـمـرِو

Maka "Al" pada lafad الـنَّـفـسَ adalah Zaidah [sekedar tambahan; tidak ada pengaruh hukum apapun].

Dan Tamyiz tidak ada; melainkan setelah (susunan) Kalamnya sempurna sebagaimana contoh-contoh yang telah lewat juga. Dan kadang kala Tamyiz bisa mendahului jika Amilnya Mutasharrif seperti 

وَشَـيـبًـا رَأْسِـيَ اشْـتَـعَـلَا

Lafad شَـيـبًـا adalah Tamyiz Muqoddam [didahulukan] daripada Amilnya; yaitu اشْـتَـعَـلَا

Wallahua'lam

Post a Comment for "Jurmiyah | part 25"